Demokrasi DI RI Desember 21, 2008
Posted by basuki34 in Uncategorized.trackback
Arak – arakan ….
Pawai idiot….
dengan baju warna-warni….
Meski tak mengerti apa yang sedang di lakukan….
apa yang sedang di teriakkan….
Cuplikan sebuah lagu dari Ahmad Band ciptaan Dhani Ahmad kalo ga salah judulnya Ode Buat Extrimist, sekitar akhir tahun 90 an.
Kalo diliat dari laguunya mungkin menceritakan masa2 keemasan orde baru dimana pada saat itu rakyat di “matikan” Demokrasinya di Republik ini, dan yang terjadi adalah kampanye dengan baju partai yang warna-warni teriak2 ga jelas juntrungan dan tujuannya . Itu mungkin dulu terjadi seperti itu, tapi sekarang apa masih seperti itu?
Kalo dilihat dari pembelajaran politik bagi bangsa ini kayanya masih ga berubah jauh dari masa lalu, hanya bergeser kisaran 10% pemahaman dan pembelajaran tentang arti demokrasi dan berpolitik di negeri ini, mengapa demikian?
Jelas para elit politik masih menggunakan kelemahan rakyat dalam berpolitik , yaitu dengan politik uang.
Kita tahu sekarang ini bangsa kita dihadapkan dalam masalah perekonomian yang cukup parah (walaupun kata para org2 pemerintah ekonomi kita sedang bagus=kata mereka), mahalnya sembako membuat rakyat semakin terpuruk, tingginya biaya hidup membuat rakyat semakin menderita, kalo boleh kita perhatikan ketika hari raya saat pembagian zakat atau pembagian daging qurban banyak sekali rakyat yang berebutan untuk mendapatkan jatah zakat dan daging.
Ini membuktikan bahwa betapa lemahnya perekonomian rakyat di sektor yang paling bawah.
Keadaan ini tidak disia2kan oleh elit parpol, dalam Pemilu yang tinggal hitungan hari ini tidak disia2kan oleh para Caleg yang bermodal Dana Kampanye yang cukup besar untuk bisa terjun ke daerah2 yang tergolong miskin untuk bisa memanfaatkan rakyat yg kelaparan dengan membagi2kan sembako atau memberikan janji2 yang indah2 kelak jika si Caleg terpilih nantinya.
Kita tidak usah menyebutkan siapa2 orangnya tapi kita tahu siapa2 aja Caleg yang ber Dana Besar dan dan melakukan kecurangan2 seperti itu, kita bisa lihat banyak orang2 yang berkuasa pada zaman Orde Baru pada Pemilu kali ini ini kembali berpolitik tentunya dengan menggunakan dana yang sangat besar untuk menarik para simpatisan nya.
Diperparah lagi dengan para pemimpin2 yang sedang berkuasa pada saat ini masih juga ikutan Kampanye bagi partainya sendiri, belum atas nama rakyat berarti masih atas nama parpol, apakah itu suatu pembelajaran?
Apakah rakyat Indonesia sudah bisa lebih pintar dalam memilih, kalo keadaanya seperti sekarang ini?
Setelah masa Reformasi, apakah Rakyat Indonesia lebih arif dalam memilih?
Apakah mungkin Rakyat Indonesia bisa memilih mana Caleg yang benar2 aspiratif dan mana Caleg yang hanya ingin kekuasaan dan jabatan saja?
Harus nya Rakyat Indonesia harus sudah lebih terpelajar dan pintar dalam memilih wakilnya di DPR, jangan lagi salah pilih, jangan lagi pilih Caleg yang Korup.

Komentar»
No comments yet — be the first.